
Media sosial kembali dihebohkan dengan klaim adanya “lubang menuju ke Mekkah” di kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Video dan foto yang beredar menampilkan sebuah lubang di area makam yang disebut-sebut memiliki keterkaitan langsung dengan Tanah Suci. Klaim tersebut memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan di kalangan warganet.
Seiring viralnya informasi tersebut, banyak peziarah dan masyarakat datang ke lokasi untuk memastikan kebenarannya. Namun, pihak pengelola dan tokoh setempat menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar fakta.
Asal Mula Isu yang Viral
Isu “lubang menuju ke Mekkah” bermula dari unggahan media sosial yang menarasikan bahwa lubang tersebut merupakan jalur spiritual langsung ke Mekkah. Narasi itu cepat menyebar karena dikaitkan dengan nilai religius dan sejarah tokoh besar penyebar Islam di Jawa.
Padahal, lubang yang dimaksud sudah lama ada dan merupakan bagian dari struktur bangunan lama di area makam.
Penjelasan Pengelola Makam
Pengelola kompleks makam menegaskan bahwa lubang tersebut bukan jalur ke Mekkah, melainkan bagian dari konstruksi lama yang memiliki fungsi tertentu pada masanya. Tidak ada catatan sejarah maupun ajaran keagamaan yang menyebutkan keberadaan jalur fisik menuju Tanah Suci dari lokasi tersebut.
Pengelola juga mengimbau peziarah agar tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.
Pandangan Sejarah dan Keagamaan
Sunan Gunung Jati dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan dakwah damai. Nilai utama dari ziarah ke makam beliau adalah mendoakan dan meneladani ajaran, bukan mencari fenomena mistis atau kepercayaan yang menyimpang.
Para tokoh agama mengingatkan agar masyarakat tetap berpegang pada ajaran Islam yang lurus dan tidak mudah terpengaruh klaim sensasional.
Imbauan kepada Masyarakat
Pemerintah daerah dan pengelola wisata religi di Cirebon mengajak masyarakat untuk bersikap bijak dalam menyikapi informasi viral. Verifikasi sumber dan klarifikasi dari pihak berwenang sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Viralnya isu ini diharapkan menjadi pelajaran bersama tentang pentingnya literasi digital, khususnya terkait isu keagamaan dan sejarah.
