
Kasus viral mengenai monyet bayi yang dijuluki “Punch” kembali menjadi perbincangan publik. Banyak warganet mempertanyakan perilaku induknya yang terlihat menjauh dan seolah menelantarkan anaknya. Lalu, benarkah induk monyet bisa dengan sengaja menelantarkan bayinya? Berikut penjelasan pakar perilaku satwa.
Fenomena Perilaku Induk pada Primata
Menurut pakar etologi (ilmu perilaku hewan), perilaku induk primata sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kondisi kesehatan, serta dinamika kelompok sosialnya. Dalam beberapa kasus, induk dapat menunjukkan perilaku menjauh dari bayinya karena:
- Stres lingkungan, seperti kebisingan atau gangguan manusia
- Ancaman dari anggota kelompok lain
- Kondisi kesehatan induk atau bayi
- Kurangnya pengalaman (induk muda)
Perilaku yang terlihat seperti penelantaran belum tentu berarti induk tidak memiliki naluri keibuan. Bisa jadi itu respons terhadap tekanan tertentu.
Faktor Stres Akibat Interaksi Manusia
Pakar satwa liar juga menyoroti dampak interaksi manusia terhadap perilaku hewan. Paparan kamera, keramaian, atau gangguan langsung dapat membuat induk merasa terancam. Dalam kondisi tertekan, beberapa primata memilih menjauh untuk melindungi diri.
Situasi seperti ini sering disalahartikan sebagai tindakan menelantarkan, padahal bisa jadi merupakan respons bertahan hidup.
Apakah Penelantaran Umum Terjadi pada Monyet?
Dalam dunia primata, kasus penolakan anak memang bisa terjadi, tetapi relatif jarang dalam kondisi alami yang stabil. Biasanya hal itu berkaitan dengan:
- Bayi yang sakit atau lemah
- Hierarki sosial dalam kelompok
- Tekanan lingkungan ekstrem
Namun, para ahli menekankan bahwa interpretasi harus dilakukan hati-hati dan tidak hanya berdasarkan potongan video viral.
Pentingnya Edukasi dan Perlindungan Satwa
Kasus viral “Punch” menjadi pengingat penting bahwa konten hewan di media sosial harus dilihat secara bijak. Edukasi mengenai perilaku alami satwa liar sangat diperlukan agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan tanpa dasar ilmiah.
Pakar menyarankan agar interaksi manusia dengan satwa liar dibatasi dan selalu mengutamakan kesejahteraan hewan.