
Suara pilu datang dari wilayah pedesaan di Kabupaten Sukabumi. Seorang siswa yang juga membantu orang tuanya sebagai petani menyampaikan keluh kesah mengenai kondisi jalan desa yang rusak parah. Curhatannya viral di media sosial dan mengundang simpati luas dari masyarakat.
Dalam video yang beredar, siswa tersebut menyampaikan bahwa akses jalan yang rusak menjadi hambatan utama bagi aktivitas warga. Tidak hanya menyulitkan anak-anak berangkat ke sekolah, kondisi ini juga berdampak langsung pada ekonomi petani yang kesulitan mengangkut hasil panen.
Alih-alih meminta bantuan lain, siswa itu secara lugas menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih memprioritaskan perbaikan infrastruktur jalan. Menurutnya, jalan yang layak akan memberikan dampak jangka panjang bagi pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan warga desa.
Curhatan tersebut juga menyinggung program bantuan seperti MBG yang dinilai belum menjawab kebutuhan paling mendesak di wilayah mereka. Bagi warga desa, akses jalan yang baik jauh lebih penting karena menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari.
Respons warganet pun beragam. Banyak yang mengapresiasi keberanian siswa tersebut menyuarakan realita di lapangan. Tak sedikit pula yang berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan menjadikan suara ini sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Kisah siswa-petani di Sukabumi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal program, tetapi juga tentang mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Infrastruktur dasar seperti jalan desa masih menjadi persoalan nyata yang membutuhkan perhatian serius.