
Sebuah unggahan di media sosial mendadak ramai diperbincangkan publik. Unggahan tersebut menyoroti kekecewaan cucu Sultan Bima XIV yang menilai sebuah bandara daerah tidak memajang foto sang kakek, tokoh bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan Kesultanan Bima.
Unggahan itu dengan cepat menyebar dan memicu diskusi luas. Banyak warganet mempertanyakan alasan tidak ditampilkannya foto Sultan Bima XIV di area bandara yang dianggap sebagai pintu gerbang daerah. Di sisi lain, sebagian masyarakat meminta semua pihak melihat persoalan ini secara lebih bijak dan proporsional.
Sorotan Publik dan Respons Warganet
Dalam unggahan yang viral tersebut, sang cucu menyampaikan rasa kecewa secara terbuka. Ia menilai bandara seharusnya memberi ruang penghormatan bagi tokoh daerah yang berjasa dalam sejarah Bima. Pernyataan itu kemudian memancing beragam reaksi dari pengguna media sosial.
Sebagian warganet mendukung pernyataan tersebut dan menganggap keberadaan foto tokoh sejarah dapat memperkuat identitas budaya daerah. Namun, ada pula yang menilai penataan bandara berada di bawah kebijakan institusi tertentu sehingga tidak bisa diputuskan secara sepihak.
Pandangan Sejarah dan Budaya Lokal
Sultan Bima XIV dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Bima. Keberadaannya sering dijadikan simbol kejayaan dan kearifan lokal. Oleh karena itu, tidak sedikit masyarakat yang berharap nilai-nilai sejarah tersebut tetap dikenalkan kepada generasi muda, termasuk melalui fasilitas publik seperti bandara.
Meski demikian, pengelolaan ruang publik umumnya harus mengikuti aturan tertentu. Faktor estetika, kebijakan institusi, hingga regulasi pemerintah sering menjadi pertimbangan utama dalam penataan area bandara.
Penjelasan dan Klarifikasi yang Dinantikan
Hingga kini, perhatian publik masih tertuju pada klarifikasi resmi dari pihak pengelola bandara maupun pemerintah daerah. Banyak pihak berharap ada penjelasan terbuka agar polemik ini tidak berkembang menjadi kesalahpahaman berkepanjangan.
Sebagian tokoh masyarakat juga mengajak publik untuk tetap menjaga suasana kondusif. Menurut mereka, penghormatan terhadap sejarah bisa diwujudkan melalui berbagai cara, tidak terbatas pada satu lokasi saja.
Penutup
Kasus viral cucu Sultan Bima XIV kecewa lantaran bandara tak pajang foto kakeknya menjadi pengingat pentingnya komunikasi antara pengelola fasilitas publik dan masyarakat. Selain itu, peristiwa ini membuka diskusi luas tentang cara terbaik menjaga dan menampilkan identitas sejarah daerah di ruang publik modern.